Namanya Denko…

RIP Denko...

Namanya Denko, seekor anjing betina peliharaan keluarga pacar saya, yang hari ini pergi menghadap Tuhan.

Kepergiannya tentu saja membuat seisi rumah berduka, mengingat sudah 10 tahun dia menemani dan menjadi sahabat setia keluarga. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat, begitu banyak kenangan tercipta yang (saya yakin) tak terlupakan.

Masih lekat di benak saya, suara gonggongan Denko tiap kali saya mengetuk pintu rumah. Mendengar gonggongannya, saya selalu tersenyum alih-alih kecewa karena dia ternyata tak kunjung hafal dengan saya. Kalau bisa rasanya pengen bilang begini, “Denko, masa udah bertahun-tahun aku main kesini kamu masih juga enggak hafal suaraku atau ketukan tanganku di pintu?” Denko mungkin akan menjawab, “Mbak Tian sih jarang main kesini, aku kan udah tua, maklum lah kalau lupa, lagian udah jadi tugasku mewaspadai tiap tamu yang datang ke rumah.” Barulah nanti ketika saya sudah masuk rumah, gonggongannya akan berhenti dan dia akan mulai mengendusi saya, kemudian berakhir dengan jilatan di kaki, pertanda dia mengenali saya, dan mengikuti saya sampai saya duduk di kursi tamu. Kalau dia sedang gembira, dia akan melompat dan kakinya meraih-raih pangkuan saya, Bapak atau Ibu akan bilang “Denko, sudah!”, Denko lalu berhenti dan tiduran di lantai. Kemudian saya pasti refleks mengelus-elus badannya, saya tahu dia suka dielus-elus kalau lagi tiduran kaya gitu di lantai. Ya begitulah ritual yang biasanya terjadi tiap kali saya main ke rumah.

Mungkin memang hanya sebatas itu kenangan saya bersama Denko, tapi itu cukup membuat saya harus terus menahan haru di kantor ketika saya melihat postingan tentang Denko yang beredar di media sosial seharian tadi, juga cukup membuat saya sesenggukan di kamar kos waktu menulis tulisan ini. Ah, segitunya, saya ini siapanya sih?

Saya akhirnya baru benar menyadari kalau yang namanya kasih sayang itu tulus tanpa alasan. Ia hadir dan mengalir apa adanya. Ia juga tak peduli dan tak kenal berbagai macam pengkotak-kotakkan yang sering manusia buat. Dan lebih lagi ia ajaib, akan menetap di hati, selamanya.

FYI, berikut beberapa kutipan dari anggota keluarga buat Denko.

RIP Mbak Denko, we love you… (TS, 2015)

Rest in peace denkow. Titip salam buat Tuhan, Den! (HDK, 2015)

RIP Denko, yen sakit raiso sambat marai sing nunggu sedih..10 tahun bersamamu, banyak kenangan indah..sampaikan pada Tuhan dengan gembira, engkau pernah hidup bersama keluarga yang sangat menyayangimu. Cinta Kami Untukmu Denko. (MTP, 2015)

Rest in Peace, sahabat setia kami, bagian dari keluarga kami: DENKO. Terimakasih untuk 10 tahun yang hebat bersamamu🙂 (CAGLK, 2015)

Waktu Denko sakit...DENKO..adik asu ku! Dipanggil Tuhan untuk menjadi malaikat kecil bersayap coklat pada 19 Januari 2015 pukul 00.00 tepat di pangkuanku! Terima kasih sudah setia menemaniku 10 tahun..salam buat denko 1 & denko 2 di surga y den y..denko 1 wulune ireng putih den..trus denko 2 wulune coklat koyo koe..gojeg terus bareng-bareng rapopo..arep njegog sak karepmu oleeeeh! Ning ojo wedi karo udan :-* (AD, 2015)

Rest in peace, Denko, our lovely family member. Setelah melalui perjuangan panjang melawan penyakit dan menghabiskan beberapa botol infus, akhirnya Denko telah dipanggil oleh-Nya. Sepuluh tahun bersama Denko yang tak akan terlupakan. Katakan pada Tuhan bahwa engkau sudah berada di keluarga yang sangat menyayangimu🙂 (CAGLK, 2015)

Selamat jalan Denko. Selamat berbahagia bersama Tuhan disana. Kecup sayang :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s