Tentang Kesungguhanku dan Kesungguhanmu

Terjebak dalam budaya ‘rikuh’ di Jawa, sering membuatku ‘basa-basi’ demi menjaga perasaan lawan bicaraku. Ditambah diriku yang memang tak bisa bersikap frontal, mengibarkan bendera perang begitu saja. Tambah parah deh.

Kadang hal itu menjadi barang yang biasa di kebanyakan orang Jawa. Lha wong budaya kok. Tapi itu ga bener juga deh. Perlu juga di saat tertentu untuk tegas. Bilang ya atau tidak.

Aku pernah di posisi dimana orang lain yang berbasa-basi di depanku. Terkesan memberi harapan. Dan itu bukan hanya satu atau dua kali tapi kadang sering, banget. Jengkel ga sih. Bilang aja enggak dari awal. Aku malah menghargainya karena pasti ada alasan tertentu. Kalau bilangnya ‘mungkin’ atau ‘akan’, itu malah jadi terkesan ga bersungguh-sungguh alias ga niat.

Itu jadi salah satu pelajaran hidup buatku. Sebisa mungkin ga akan terkesan ‘berjanji’ di depan orang lain. Itu malah kadang bikin orang lain kecewa. Bakal tegas dan sehalus mungkin deh bila harus bilang tidak.  Dan ketika aku bilang iya, itu berarti aku pasti menepatinya dengan sungguh-sungguh. Catat, sungguh-sungguh.

Random banget tulisan ini. Terinspirasi karena kejadian yang mempertaruhkan tanggungjawabku pada banyak orang hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s