Jatuh Cinta … Cosmological Coincidence … Keberanian

Tulisan ini kutulis jujur karena terinspirasi sama Raditya Dika yang akhir-akhir ini nerbitin ‘Marmut Merah Jambu’. Lagi-lagi tentang pengalaman hidupnya yang kocak, hanya kali ini lebih fokus sama hal yang paling absurb di dunia, yakni JATUH CINTA.

Sering aku berpikir tentang bagaimana dua orang bisa bertemu dan jatuh cinta. Bagaimana orang bertemu memang aneh, absurb, dan kompleks. Tidak seorang pun yang tau pasti kapan kita bisa ketemu sama soulmate kita. Katanya itu sudah digariskan oleh sang pencipta. Destiny. Antara percaya dan tidak.

Aku ngambil sedikit kutipan dari ‘Marmut Merah Jambu’ halaman 145 dan 164.

Cerita bagaimana sepasang kekasih ketemu selalu hal yang menarik untuk didengarkan. Bagaimana semesta bisa berkonspirasi hingga dua orang bisa actually ketemu memang mendekati keajaiban.

Gue menyebut ini semua sebagai sebuah ‘cosmological coincidence’, atau kebetulan kosmos, kebetulan yang dirancang oleh alam semesta. Semesta telah mengatur pertemuan kita. Masing-masing dari kita punya garis kehidupan yang telah digambarkan. Dan masing-masing dari kita, kalau diizinkan, akan saling bersinggungan.

Gimana? Aku sepakat dengan si Raditya Dika. Aku percaya, di balik semua itu ada tangan Tuhan yang bekerja.

Kadang di sebagian orang cerita itu sangat simple, terkesan tanpa perjuangan. Namun, di sebagian orang yang lain cerita bertemu dengan the one itu susahnya minta ampun. Jangankan untuk pacaran, untuk kenalan pun susahnya minta ampun.

Terlalu dini mungkin untuk ngomongin ‘jodoh’ di usiaku yang sekarang ini. Kalau ngebayangin tentang menikah dan segala macem tetek bengek-nya itu rasanya serem. Hehehe..

Jadi ngelantur. Balik lagi soal tadi. Katakan jodoh kita itu memang uda diatur sama Tuhan, lantas ‘orang-orang’ yang mengisi hati kita dan mungkin yang sempat kita pacari bahkan kita nikahi sebelum kita bertemu ‘jodoh kita sesungguhnya’ itu siapa? Kata sebagian orang, ‘mereka’ itu adalah batu loncatan sebelum kita akhirnya bisa ketemu jodoh kita. Apa iya?

Aku sempat bertanya-tanya mendingan kita itu berusaha nyari jodoh kita dengan resiko bakal sakit hati dan patah hati di tengah perjalanan kita itu atau lebih baik kita diam dan menunggu Tuhan kasih sinyal. Mana yang benar? Kalau milih berusaha, sakit banget kalo akhirnya ternyata usaha kita sia-sia, akhirnya tetep kita gag punya jodoh, mendingan dari dulu gag usah sakit-sakit gitu. Tapi kalau milih diem aja nunggu sinyal dari Tuhan, trus akhirnya juga tetep gag dapet jodoh, pasti dikatain salahnya sendiri pasif gag usaha. Serba salah deh.

Tapi akhirnya aku membenarkan pilihan yang pertama. Usaha gals! Yang penting usaha dulu, kalau nanti hasilnya gag seperti ekspektasi kita, mungkin memang itu yang terbaik.

Sekarang yang jadi permasalahan adalah gender. Aku terlahir sebagai perempuan timur. Kadang aku iri dengan barat, dimana perempuan itu mandiri dan tak terbentur adat sana sini. Sedangkan perempuan timur terkesan sebaliknya. Ini berdampak pada hubungan cinta. Banyak temen-temen cewekku yang akhirnya cuma bisa mencintai seorang cowok diam-diam tanpa pernah berani mengutarakan perasaan mereka. Perempuan hanya bisa menunggu dan menunggu, berharap akhirnya sang pujaan hati itu nembak. Sangat tabu kalo perempuan yang menyatakan cinta duluan. Kasian banget ya perempuan itu. Yah kalo akhirnya si cowok itu sadar dan akhirnya nembak, kalo si cowok itu ternyata juga gag berani nembak trus gimana. Kaya cerita-cerita sinetron deh akhirnya. So sad..

Tapi kayanya andaikan aku terlahir jadi perempuan barat tetep gag ngefek. Walaupun mungkin aku tipe orang yang gampang dan berani mengutarakan emosi, perasaan, dan pendapat ke orang lain. Namun, khusus buat perasaan itu, jujur tak mudah.

Mungkin karena aku menganggap cinta itu bukan mainan. Cinta itu ya satu aja, dan setia. Bukan yang baru ketemu suka dan jadian. Lalu seminggu kemudian putus lalu ganti lagi. Bukan aku banget. Aku tipe orang yang lambat. Butuh waktu yang lama untukku untuk bisa sayang sama orang. Perlu waktu untuk menumbuhkan, mendewasakan, dan menyakinkanku kalo aku benar-benar sayang sama dia. Tapi sekali aku sayang, percayalah itu gag main-main.

Namun sifat setiaku ini juga bakal jadi penghalang dalam ‘usaha’ perjalanan untuk bertemu jodoh kita. Selain gender yang bikin aku gag berani ngungkapin perasaan, sifat setia bakal bikin aku gag bakal maju-maju kalo terus sayang sama satu orang itu terus dan gag bisa melupakannya walaupun udah jelas-jelas kita gag mungkin bersama. (curcol banget. hehehehe.)

Tapi itu gag bakal terjadi padaku kog. Aku uda insaf. Buktinya sekarang aku bisa mencintai seorang yang lain dan sedikit melupakan masalah gender-ku itu. Kutipan lagi dari Marmut Merah Jambu halaman 217.

Karena kita, seperti belalang, tahu bahwa untuk mencintai seseorang, butuh keberanian.

Belalang? Baca sendiri deh gimana kisah tentang Belalang Sembah kalo kawin. Berani untukku adalah berani mengambil keputusan dan menerima resiko apapun dari pilihan kita.

Aku telah berani mengambil keputusan untuk meninggalkan-nya, mengambil resiko, dan mempertahankan keputusan itu. Meski banyak hal yang membuatku goyah dalam perjalanan ini.

Dan sekarang aku juga telah berani memilih dia yang lain untuk mengisi hatiku ini…

Entahlah kisahku akan berakhir apa dan dengan siapa. Dengan yang ini, atau yang itu, atau dengan yang anu. Aku juga gag bakal pernah tau gimana nanti ceritanya aku bisa ketemu soulmateku. Kebayang ketemu orang asing yang gag pernah kubayangkan sebelumnya atau malah justru orang yang gag asing lagi karena dia itu ternyata teman dekatku. Ya cosmological coincidence. Berharap ceritanya bakal indah dan lucu. Hehehehe.. Seaneh, seabsurb, dan seajaib cerita-cerita pasangan kekasih yang lain🙂

3 thoughts on “Jatuh Cinta … Cosmological Coincidence … Keberanian

  1. Entah mengapa, aku menarik nafas panjang begitu selesai membaca tulisan ini. Tapi aku suka caramu mengungkapkan perasaan melalui tulisan. Begitu dalam dan bernyawa. Keep writing, angel..🙂

    Btw, butuh konsultan buat pedekate ke cowok ? Di buku yang dulu itu kan ada, cowok jatuh cinta dari matanya. Manjakan matanya. Kalau dia tetep tidak tertarik, kemungkinan besar di homo. Hehehe….

  2. hahaha..uda ku app..

    aku merasa gag berbakat di sastra..nilaiku selalu sangat standar..trus gag punya kata2 yang menurutku mengesankan..terkesan biasa2 aja..hanya untuk konsumsi harian..ajarin cara menulis dongg..hehehe..

    huaaahhaa..memang banyak homo beredar di pasaran sekarang..hehehe..soal pedekate sama cowok?hahaha emang harus pake cara?let me be myself..aku bingungnya kalo dipedekati cowok..hihihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s