Sepatu Baru = Kecelakaan

Yang namanya perempuan, seperti sudah tertanam dalam otaknya ‘hobi belanja’. Tidak semua, kebanyakan tapi. Termasuk aku. Aku sendiri bisa digolongkan di golongan perempuan belanjanisme. Hehehe.. Tapi tidak sampai yang gelap mata, aku masih menyesuaikan dengan kebutuhan dan kocek yang kupunya kok.

Namun beberapa bulan terakhir ini aku seperti tidak bisa mengendalikan monster di dalam diriku yang haus setiap melihat barang-barang terpajang di pusat perbelanjaan. Kali ini aku sedang tergila-gila pada sepatu. Dalam kurun 2 bulan ini aku sudah membeli 3 sepatu. Mungkin jumlah ini tidak seberapa bagi perempuan yang suka belanja. Tapi menurutku tetap pemborosan. Menyesal sebenarnya, tapi juga puas, memuaskan monster dalam diriku itu.

Ya yang namanya sepatu baru kan biasanya ingin segera dipakai. Sekalian dimix-matchkan dengan baju, tas, riasan, juga acara yang akan kuhadiri. Ceritanya malam itu aku akan berpentas bersama grup musikku di sebuah acara resepsi pernikahan di gedung yang cukup ternama. Rencana aku akan memakai sepatu baruku, high heels 7 cm berwarna cream yang harganya cukup menguras kocek. Tak sabar rasanya menjajal sepatu itu.

Siangnya pada hari itu, aku harus mengikuti kuliah di fakultas lain, dan aku mengendarai motor. Aku waktu itu mengenakan sepatu baruku yang satu lagi, sepatu sandal tanpa hak, berwarna putih, open toe. Entah karena melamun atau memang ramai, aku mengalami kecelakaan kecil. Karena motor di depanku ngerem mendadak, aku kaget dan tidak bisa menjaga keseimbangan. Akibatnya ku menyerempet tembok dan akhirnya kaki kananku menjadi korban. Tiga jariku berdarah-darah dan bengkak. Sakit rasanya. Sakit merasakan pedih di kaki juga sakit membayangkan aku gagal memakai sepatu high heels ku yang baru itu di malam harinya. Hehehe lebay..

Kecelakaan kedua terjadi ketika aku memakai sepatu baruku yang ketiga. Kejadian ini baru terjadi beberapa hari yang lalu. Sepatu sandal tanpak hak, berwarna variasi dari putih, hitam, dan abu-abu, open toe. Terjadi siang hari ketika dalam perjalananan menuju sebuah studio foto untuk mencetak pas foto. Aku melewati sebuah jalan yang ramai dan tidak begitu lebar. Yah kembali karena mungkin melamun, aku tidak melihat bahwa motor di depanku memberi tanda lampu sein untuk belok ke kiri, dan aku menyelip motor itu dari sisi kiri. Otomatis tabrakan tak terelakkan. Aku jatuh terguling-guling di aspal. Motor rusak, badan sakit, dan sepatu baruku itu lecet. Tapi untungnya orang yang kutabrak tidak mengalami luka-luka baik di tubuh maupun motornya. Selamat aku, fyuhh..

Ya itu kecelakaan-kecelakaan yang kualami bersama ketika aku pertama kali memakai sepatu-sepatu baruku itu. Mungkin ini peringatan bahwa aku tidak boleh terlalu boros membelanjakan uang untuk menuruti hawa nafsuku, juga peringatan untuk tidak melamun dan lebih berkonsentrasi saat mengendarai motor di jalan. Hehehehe.. buat sepatu-sepatuku maaf ya, baru pertama kali dipakai kalian sudah mengalami kecelakaan yang menyebabkan kalian lecet-lecet. Hihihihi🙂

8 thoughts on “Sepatu Baru = Kecelakaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s