merelakan, sebuah kutipan..

merelakan bukan berarti melupakan, tidak memikirkan sama sekali atau mengacuhkan.. ia tidak meninggalkan marah, cemburu atau menyesal..

merelakan bukan berarti menang atau kalah.. ia jelas bukan masalah harga diri atau kesan yang ditimbulkannya, bukan pula perasaan terobsesi untuk membalas dendam atau pun lantas kemudian tenggelam dalam kepahitan masa lalu..

merelakan tidak berarti membendung pikiran dan kenangan yang menyedihkan.. ia tidak pula meninggalkan kekosongan, sakit hati, atau kesedihan.. bukan pula berarti menyerah kalah atau mundur pasrah pada sang nasib..

merelakan tidak sama dengan kehilangan, dan sekali lagi jelas bukan kekalahan..

merelakan berarti mampu menyimpan kenangan tetapi bisa juga mengatasinya dan tetap melanjutkan kehidupan, berpikir terbuka dan yakin akan masa depan..

merelakan berarti menerima kenyataan, belajar menarik pengalaman dan terus bertumbuh..

merelakan berarti berusaha bersyukur atas pengalaman yang kadang membuat kita tertawa, marah, dan kemudian berkembang secara utuh menjadi diri kita sendiri..

merelakan berarti mempunyai keberanian untuk menerima perubahan, mencoba berjalan tanpa menghiraukan penghalang semu yang terkadang kita ciptakan sendiri.. berani untuk melangkahkan kaki dan menerima setiap kekhawatiran yang ada..

merelakan berarti membiarkan dirinya pergi berlalu, sementara aku tetap tegak berdiri dan bergumam aku mencintainya, lalu akupun pergi berlalu..

5 thoughts on “merelakan, sebuah kutipan..

  1. aku berani bertaruh engkau tidak mengatakannya dengan lugas dan langsung, hanya memakai kata-kata kias yang melukiskan perasaanmu, dan berharap dia akan mengerti apa yang kau maksudkan.

    sayangnya pria adalah makhluk yang kemampuan otaknya untuk berkomunikasi tidak berkembang dengan sempurna. maklum, sejak jaman purbakala pria memang terbiasa untuk diam ketika berburu binatang untuk makan malam. berbicara dengan bahasa tarzan akan jauh lebih bermanfaat ketimbang berbicara dengan bahasa puitis ketika kamu bicara dengan pria.

    wouldn’t it be very romantic if a man can understand the feeling of a woman without words ? yes, but that’s not how it works. a woman needs an understanding, but a man needs words, crystal clear words, to make him understand.

    Ketika seorang perempuan berbicara seperti seorang perempuan pada umumnya , dan pria mendengar seperti seorang pria pada umumnya, inilah yang terjadi :

    Perempuan : Kenapa sih kamu ndak pernah ngertiin aku ?!
    Pria : Nah kamu nggak pernah ngomong apa yang kamu mau, gimana aku bisa ngerti ? Emangnya aku dukun ?
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s