Ketika kamu kehilangan dan atau mengalami perpisahan…

Kehilangan identik dengan perpisahan, begitu pula sebaliknya, meski secara harfiah berbeda makna. Kehilangan, sebagai kata benda bermakna hal hilangnya sesuatu atau kematian, dan sebagai kata kerja bermakna menderita sesuatu karena hilang. Perpisahan, sebagai kata benda bermakna hal berpisah atau perceraian yakni tidak berhubungan, tidak rapat, tidak berdampingan, dan sebagainya. Namun, kedua kata tersebut menjadi terasa erat, karena pada umumnya menyebabkan derita, susah hati bagi makhluk yang mengalaminya.

Entah kata yang mana yang cocok menggambarkan kejadian yang saya alami belum lama ini. Tapi rasa yang ditimbulkan sama, rasa susah dalam hati. Karena bukan benda, melainkan manusia, yang hilang atau berpisah dengan saya.

Saya hanya percaya bahwa setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup ini atas kehendak Tuhan. Ketika Tuhan memberimu sesuatu, ingatlah bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milikNya. Sebagai manusia, kita harus mengucap syukur atas pemberianNya dengan cara menjaga, merawat, dan mengasihinya dengan sepenuh hati. Namun, manusia juga harus mampu tetap mengucap syukur dan merelakannya apabila suatu saat Tuhan mengambilnya kembali.

Meski raganya mungkin tak lagi di sisi, namun jiwanya akan selalu di hati, dengan doa setiap hari. Karena doa menghubungkan sesuatu yang jauh, melintasi ruang dan waktu. Dan Tuhan mendengar doa orang percaya, doa yang tulus dan penuh kasih.

Semuanya memang tidak pernah instan, perlu proses yang mungkin tidak sebentar. Oleh karena itu, saya menikmatinya dengan penuh ucap syukur dan pasrah sempurna. Sambil terus mengingat bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang sering tidak kita pahami untuk menyatakan bahwa kasihNya sungguh dan tetap.

Advertisements

Namanya Denko…

RIP Denko...

Namanya Denko, seekor anjing betina peliharaan keluarga pacar saya, yang hari ini pergi menghadap Tuhan.

Kepergiannya tentu saja membuat seisi rumah berduka, mengingat sudah 10 tahun dia menemani dan menjadi sahabat setia keluarga. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat, begitu banyak kenangan tercipta yang (saya yakin) tak terlupakan.

Masih lekat di benak saya, suara gonggongan Denko tiap kali saya mengetuk pintu rumah. Mendengar gonggongannya, saya selalu tersenyum alih-alih kecewa karena dia ternyata tak kunjung hafal dengan saya. Kalau bisa rasanya pengen bilang begini, “Denko, masa udah bertahun-tahun aku main kesini kamu masih juga enggak hafal suaraku atau ketukan tanganku di pintu?” Denko mungkin akan menjawab, “Mbak Tian sih jarang main kesini, aku kan udah tua, maklum lah kalau lupa, lagian udah jadi tugasku mewaspadai tiap tamu yang datang ke rumah.” Barulah nanti ketika saya sudah masuk rumah, gonggongannya akan berhenti dan dia akan mulai mengendusi saya, kemudian berakhir dengan jilatan di kaki, pertanda dia mengenali saya, dan mengikuti saya sampai saya duduk di kursi tamu. Kalau dia sedang gembira, dia akan melompat dan kakinya meraih-raih pangkuan saya, Bapak atau Ibu akan bilang “Denko, sudah!”, Denko lalu berhenti dan tiduran di lantai. Kemudian saya pasti refleks mengelus-elus badannya, saya tahu dia suka dielus-elus kalau lagi tiduran kaya gitu di lantai. Ya begitulah ritual yang biasanya terjadi tiap kali saya main ke rumah.

Mungkin memang hanya sebatas itu kenangan saya bersama Denko, tapi itu cukup membuat saya harus terus menahan haru di kantor ketika saya melihat postingan tentang Denko yang beredar di media sosial seharian tadi, juga cukup membuat saya sesenggukan di kamar kos waktu menulis tulisan ini. Ah, segitunya, saya ini siapanya sih?

Saya akhirnya baru benar menyadari kalau yang namanya kasih sayang itu tulus tanpa alasan. Ia hadir dan mengalir apa adanya. Ia juga tak peduli dan tak kenal berbagai macam pengkotak-kotakkan yang sering manusia buat. Dan lebih lagi ia ajaib, akan menetap di hati, selamanya.

FYI, berikut beberapa kutipan dari anggota keluarga buat Denko.

RIP Mbak Denko, we love you… (TS, 2015)

Rest in peace denkow. Titip salam buat Tuhan, Den! (HDK, 2015)

RIP Denko, yen sakit raiso sambat marai sing nunggu sedih..10 tahun bersamamu, banyak kenangan indah..sampaikan pada Tuhan dengan gembira, engkau pernah hidup bersama keluarga yang sangat menyayangimu. Cinta Kami Untukmu Denko. (MTP, 2015)

Rest in Peace, sahabat setia kami, bagian dari keluarga kami: DENKO. Terimakasih untuk 10 tahun yang hebat bersamamu 🙂 (CAGLK, 2015)

Waktu Denko sakit...DENKO..adik asu ku! Dipanggil Tuhan untuk menjadi malaikat kecil bersayap coklat pada 19 Januari 2015 pukul 00.00 tepat di pangkuanku! Terima kasih sudah setia menemaniku 10 tahun..salam buat denko 1 & denko 2 di surga y den y..denko 1 wulune ireng putih den..trus denko 2 wulune coklat koyo koe..gojeg terus bareng-bareng rapopo..arep njegog sak karepmu oleeeeh! Ning ojo wedi karo udan :-* (AD, 2015)

Rest in peace, Denko, our lovely family member. Setelah melalui perjuangan panjang melawan penyakit dan menghabiskan beberapa botol infus, akhirnya Denko telah dipanggil oleh-Nya. Sepuluh tahun bersama Denko yang tak akan terlupakan. Katakan pada Tuhan bahwa engkau sudah berada di keluarga yang sangat menyayangimu 🙂 (CAGLK, 2015)

Selamat jalan Denko. Selamat berbahagia bersama Tuhan disana. Kecup sayang :*

Manusia, Mesin, dan Belajar

Saya : Udah berapa lama kerja disini Bu?

Bu X : Mbak, kelahiran tahun berapa?

Saya : 1991 Bu.

Bu X : Ya kurang lebih lama kerja saya hampir sama dengan umurmu mbak.

Saya : Wow sudah lama juga yaa. Kerjanya di bagian ini terus Bu?

Bu X : Iya mbak.

Saya : Gak bosen kah Bu?

Bu X : Enggak mbak. Mesin yang harus dioperasikan ganti-ganti, pasti ada pembaharuan. Jadi ya ga bosen. Lagian mesin yang sama aja kadang beda-beda rewelnya, jadi perlu belajar terus buat ngerti.

Saya : Belajar seumur hidup! 😀

Bu X : Hahaha iya mbak. Coba liat lini sebelah. Merek dan tipenya sama kan sama mesin saya?

Saya : Iya bu. Persis.

Bu X : Walaupun sama persis, saya ga seahli Bu Y yang megang mesin disana. Beda mesin beda sentuhan mbak. Mesin yang sama aja perlakuannya beda, apalagi manusia ya mbak yang pasti beda, punya keunikan masing-masing. Makanya jangan pernah bosen belajar memahami orang lain yaa.

Saya : (mengangguk) Pasti Bu 🙂

Hari ‘Peringatan’ yang ‘Bebas’?

Hydrangeas wedding flower, wedding flower bouquet, flower bouquets

Untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menambah ilmu sekaligus menambah uang saku hehe, saya menggabungkan diri menjadi salah satu pengajar di salah satu lembaga kursus musik di daerah Kotabaru, Yogyakarta. Saya menjadi pengajar alat musik organ klasik untuk siswa SD. Jadwal mengajar saya tiap hari Rabu sore, dari jam 17.30 sampai 18.00. Setiap berangkat dan pulang mengajar, saya selalu melewati deretan toko-toko bunga di Kotabaru tersebut. Dilahirkan sebagai seorang perempuan membuat saya selalu tak kuasa menolehkan pandangan saya pada deretan toko-toko yang menjual beraneka ragam jenis dan warna bunga yang indah tersebut. Berulang-ulang terjadi seperti itu, sehingga tak hanya rupa bunga saja namun juga kegiatan bisnis serta transaksi jual beli antara penjual dan pembeli tak luput dari pengamatan saya.

Peristiwa yang cukup menarik bagi saya terjadi kemarin, tepatnya hari Rabu, tanggal 13 Februari 2013, waktu itu hujan gerimis, saya jadi males-malesan pulang ke kos seusai mengajar, alhasil saya cuma duduk termangu di atas motor, di parkiran lembaga les yang berpeneduh. Dari parkiran, saya dapat melihat dengan cukup dekat dan jelas deretan toko-toko bunga Kotabaru. Pertamanya saya ‘ngrasani’ dalam hati, “Ih norak banget sih hiasan tokonya pink-pink gitu, mana bunganya mawar banyak, warnanya juga banyak yang pink-nya lagi!” (red. maklum saya tidak begitu suka mawar dan warna pink hehe). Selain itu saya juga terganggu dengan pembeli yang ‘tumben’ berdiri berderet-deret, mengganggu pandangan saya saja, bikin saya tidak leluasa memandangi indahnya bunga-bunga dengan cuma-cuma. Bisa ditebak kan betapa lemot-nya saya, yang sekian lama akhirnya baru sadar kalau besok itu hari Valentine. Alamak pantesaaan >.<

Meskipun saya terganggu dengan segala warna pink dan kerumunan pembeli tersebut, ada hal yang membuat saya bahagia, yaitu raut muka penjual bunga yang ‘sumringah’ dengan senyumnya yang cerah ceria dan menyenangkan serta salam sapa super ramah buat para pembeli (lebay ya kata-katanya haha). Tapi beneran deh saya jadi mendadak bahagia. Ngebayangin senengnya para penjual bunga yang bisa berbagi kasih buat para pembeli sekaligus dapet rejeki nomplok gara-gara hari Valentine.

Tapi kebahagiaan itu dari sisi penjual bunga atau saya yang ceritanya jadi ‘penggemar’ penjual bunga sih, kalau dari sisi yang lain, mungkin Valentine bisa jadi justru berarti penderitaan, ancaman, bahaya, kesia-siaan, pemborosan, atau berbagai macam pendapat lainnya.

Bagi saya pribadi (ceritanya sudah bukan ‘penggemar’ penjual bunga), hari Valentine, sama seperti hari ‘peringatan’ yang lain, semacam hari Ibu, hari Ayah, hari Anak-anak, hari Ulang Tahun, hari Lingkungan Hidup. hari Kesehatan, hari AIDS, hari Kemerdekaan, hari Pendidikan Nasional, dan berjuta-juta macam hari peringatan yang ada di muka bumi ini. Mereka semua adalah hari ‘peringatan’, hari dimana kita ‘diingatkan’ kembali untuk memaknai peristiwa tersebut (red. memaknai dengan baik dan dewasa tentunya), tidak hanya di hari itu, namun di setiap hari yang kita punya. Kadang saya mikir, ada hari peringatan aja orang-orang suka lupa mengamalkan berbagai macam kebaikan tersebut, apalagi ga ada hari peringatan. Idealnya sih, ga ada hari peringatan sekalipun, seharusnya kita sudah sadar diri buat selalu melalukan segala kebaikan. Tapi kan ya ga semua orang lurus dan selalu ingat. Bagus juga kalau ada hari peringatan, jadi bikin ingat lagi kalau dalam perjalanan hidup harus melakukan kebaikan tersebut di setiap hari dan setiap saat.

Itu bagi saya, bagi orang lain mungkin berbeda. Semuanya tergantung bagaimana kita memaknai hari peringatan tersebut. Mau dimaknai positif, negatif, netral itu ‘hak’ masing-masing. ‘Bebas’ kok, asal dalam ‘kebebasan’ tersebut tidak saling melukai satu sama lain, ya kan? 😀

Selamat tanggal 14 Februari! Selamat hari Valentine atau hari Kasih Sayang bagi yang merayakan, dan selamat hari Kamis buat yang tidak merayakan hehe. Yuk bersama-sama kita berbagi cinta, kasih, dan sayang buat sesama! 

Bukan Kalah Bukan Menang

Menang kalah di perlombaan itu biasa. Tapi kalau menang kalah dalam sebuah relasi antar manusia? Tanda tanya buatku.

Gimana sih rasanya kamu kalah sama seseorang dan itu ga cuma sekali? Geregetan ga sih? Sedih dan kecewa ga sih? Kalo itu terjadi dalam perlombaan, aku bakal berusaha sedemikian rupa ngumpulin score tertinggi biar bisa menang. Tapi kalau itu terjadi dalam sebuah relasi antar manusia kan ga bisa tuh pake cara scoring. Mau aku berusaha juga ga ngefek, masalahnya itu nyangkut sama perasaan masing-masing orang, ga ada jaminan score yang adil di situ. Dalamnya lautan bisa dihitung, tapi dalamnya hati siapa yang tau *maksa ga nyambung biarin

Aku tau kalau seharusnya sebuah hubungan ga boleh dibandingin sama sebuah perlombaan. Ga ada rumus menang kalah dalam menjalin sebuah hubungan. Tapi dengan segala kelemahan dan keegoan manusia, pernah ga sih kalian ngerasa gitu? Atau cuma aku aja yang terlalu egois? -.-

Sempat merenung cari jawabannya. Ga ketemu sih sebenernya. Tapi paling ga aku uda punya alasan buat ga berlarut-larut dalam hal ini.

Kalau dibilang egois, iya. Bukankah dasar setiap relasi antar manusia itu kasih. Jadi jangan pernah berharap diberi ataupun dibalas. Belajarlah memberi tanpa pamrih. Kalau kita sudah bisa mengasihi dengan tulus, dijamin deh kita bakal ceria di segala suasana.

Jadi aku ambil hikmahnya aja deh. Mungkin ini teguran buatku yang sampai sekarang belum bisa mengasihi dengan tulus sepertiNya. Masih aja banyak egoisnya. Sambil belajar juga menjadi pribadi yang penuh kasih dalam menjalin relasi dengan sesama, seperti yang uda Ia ajarkan. Jadi inget ayat tentang kasih di I Korintus 13 : 1-8 🙂

So bukan kalah dan bukan menang tapi ajakan buat semakin mengasihi. Mari berbagi kasih ❤

curcolan sore yang ga nyambung tapi lega..

Kata-kata Pedas yang Menyenangkan

Taukah kamu kalau kata-katamu tadi menyakitiku. Sedih banget rasanya. Aku tau kamu tipikal orang yang memang perkataannya pedas, jadi aku seharusnya bisa memaklumimu. Tapi entah kenapa aku tadi ga bisa memahamimu. Kata-katamu terlalu tajam untukku. Untunglah tadi aku bisa menguasai emosiku dengan cukup baik. Ga lucu banget kalau aku tiba-tiba mencucurkan air mata. Fyuuh.

Entah apa yang Tuhan maksud menempatkanku pada situasi tadi. Mungkin aku diperingatkan olehNya untuk belajar memaafkan. Dan yang tidak kalah penting adalah belajar untuk tidak melakukan hal yang sama pada orang lain. Bila ada orang yang memperlakukanmu dengan tidak baik, itu peringatan bahwa kamu tidak boleh memperlakukan orang lain dengan tidak baik juga. Bila kamu tersakiti hatinya, itu menjadi pelajaran bahwa kamu tidak boleh berlaku yang sama, membuat orang lain juga tersakiti hatinya.

Hai kamu. Terimakasih yaa untuk kata-kata pedasmu. Mungkin maksudmu tadi baik, kamu ga sengaja berucap pedas padaku. Malahan itu jadi pelajaran berharga buatku. Sekali lagi terimakasih teman. Kecup sayang :*

Mr. Headache

Hey Mr. Headache. How are you? You told me that you have an extraordinary headache again this night.

As a doctor someday, you should have an ability to make self diagnosis based on what your body telling to you. I always feel sad and worried everytime you say that you get a real headache. Feel like there is something wrong with you.

Ah, talking about you will spend a lot of time. It’s never enough. Hahaha. You are responsible for my feeling. Feeling bitter, salty, spicy, acid, and sweet. And for that I give thanks to you.

Thank you for being my everything. Thanks for being person who always still listening whenever I twaddle about everything in my life, still here with me no matter how irritating I have always been, being the place to lean when I had to go through the bad phases of my life, always reminds me to pursue and catch my dreams, and for your stories, lesson, advices, laughs, and loves.

And will it be forever? The future is full of uncertainties. Only God know every future before it happens. I promise nothing about forever. But I would stay by your side no matter how bad things might get until we depart. So sweet hahaha.

Good nite Mr. Headache. Wish you get well soon :3

dengan suasana mata dan hati yang random serta grammar penuh kehancuran

Tentang Kesungguhanku dan Kesungguhanmu

Terjebak dalam budaya ‘rikuh’ di Jawa, sering membuatku ‘basa-basi’ demi menjaga perasaan lawan bicaraku. Ditambah diriku yang memang tak bisa bersikap frontal, mengibarkan bendera perang begitu saja. Tambah parah deh.

Kadang hal itu menjadi barang yang biasa di kebanyakan orang Jawa. Lha wong budaya kok. Tapi itu ga bener juga deh. Perlu juga di saat tertentu untuk tegas. Bilang ya atau tidak.

Aku pernah di posisi dimana orang lain yang berbasa-basi di depanku. Terkesan memberi harapan. Dan itu bukan hanya satu atau dua kali tapi kadang sering, banget. Jengkel ga sih. Bilang aja enggak dari awal. Aku malah menghargainya karena pasti ada alasan tertentu. Kalau bilangnya ‘mungkin’ atau ‘akan’, itu malah jadi terkesan ga bersungguh-sungguh alias ga niat.

Itu jadi salah satu pelajaran hidup buatku. Sebisa mungkin ga akan terkesan ‘berjanji’ di depan orang lain. Itu malah kadang bikin orang lain kecewa. Bakal tegas dan sehalus mungkin deh bila harus bilang tidak.  Dan ketika aku bilang iya, itu berarti aku pasti menepatinya dengan sungguh-sungguh. Catat, sungguh-sungguh.

Random banget tulisan ini. Terinspirasi karena kejadian yang mempertaruhkan tanggungjawabku pada banyak orang hari ini.

rahasia, lalu aku? (part 2)

Tak ada yang mampu membongkar

Satupun juga tak ada tebakan yang benar

Tersenyum sambil tertawa

Puas rasa di dada

 

Menjadi salah satu drama terhebatku

Terjalin rapi dalam skenarioku

Sungguh tertata apik

Mengelabui, tercitra terbalik

 

Orang lain selalu memandang masa lalu

Dengan gaya yang juga lalu

Pandanglah 180 derajat

Anggaplah matahari terbit dari barat

 

Apakah akan terpecahkan?

Kalau rahasia ini kode pasti pecah kan?

 

[dan ini bukan kode]